Mengenal Serkan Cura, Desainer di Balik Glamornya Lingerie Victoria’s Secret

Mengenal Serkan Cura, Desainer di Balik Glamornya Lingerie Victoria’s Secret

58
0
SHARE
Mengenal Serkan Cura, Desainer di Balik Glamornya Lingerie Victoria’s SecretMengenal Serkan Cura, Desainer di Balik Glamornya Lingerie Victoria’s Secret

Mengenal Serkan Cura, Desainer di Balik Glamornya Lingerie Victorias Secret Dok. Swarovski Jakarta – Serkan Cura, Desainer di Balik Glamornya Lingerie di Victoria’s Secret Fashion Show 2015

Glamornya deretan lingerie yang bermuncul di pentas Victoria’s Secret Fashion Show 2015, Selasa (10/11/2015) malam, mustahil terwujud tanpa tangan dingin orang-orang kreatif di baliknya. Adalah Serkan Cura, seorang couturier alias desainer adi busana berbasis di Paris yang merancang sebagian besar lingerie glamor Victoria’s Secret malam itu.

Dua tahun sudah Serkan terlibat dalam pergelaran akbar tahunan yang dihelat label lingerie ternama tersebut. Tapi tahun ini, pria kelahiran Belgia ini melakukan sesuatu yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Serkan memang berkomitmen untuk konsisten menghadirkan elemen baru pada lingerie karyanya untuk Victoria’s Secret.

“Tahun ini, aku merancang lebih banyak lingerie. Sungguh menyenangkan tapi lebih membuat stres,” kata desainer yang pernah berguru kepada desainer kondang Jean Paul Gaultier itu seperti dikutip refinery29.com.

Di samping desain yang lebih beragam, Serkan juga lebih intens bermain dengan detail kristal Swarovski. Khusus untuk membuat sebuah korset yang membaluti tubuh seksi model Martha Hunt saja, Serkan menghabiskan 90.000 butir kristal. Butuh waktu dua bulan hanya untuk menyelesaikan bagian dasar korset itu, ditambah dua minggu untuk membuat detail fringe, lalu satu bulan lagi untuk menyempurnakan hasil sulaman. Di panggung, lingerie yang berbobot hampir 10 kilogram itu dipadu dengan sayap yang berhiaskan lampu LED buah karya seniman Marian “Killer” House.

Kristal bukanlah satu-satunya elemen yang mendominasi desain Serkan. Ia turut menghiasi rancangannya dengan material favoritnya, bulu. Dari 21 lingerie rancangannya yang naik pentas, 16 diantaranya dipercantik dengan detail bulu penuh warna. Ia memang sudah kepincut material yang satu ini sejak berusia 13 tahun.

“Sewaktu umurku 13 tahun, aku sering sekali ke pasar loak. Suatu saat aku melihat bulu-bulu burung yang cantik dijual. Aku lalu membelinya. Dari situlah, aku mulai menyukai material bulu,” kenang dia.

Walau digelar November, proses kreatif proyek jutaan dolar ini sudah berlangsung sejak Mei silam. Tapi persiapan yang memakan waktu hampir enam bulan itu nyatanya tidaklah cukup bagi Serkan dan timnya. Ia harus berpacu dengan waktu untuk menyelesaikan karyanya.

“Sampai detik-detik menjelang show pun, kami pun masih tetap bekerja,” kata desainer yang sempat memamerkan koleksinya di Paris Fashion Week Haute Couture Juli lalu.

Sophia Neophitou, selaku direktur kreatif Victoria’s Secret, dikatakan Serkan sangat terlibat dalam proses kreatifnya. Hal ini membuat beban Serkan dan timnya terasa lebih ringan.

“Ketika tiba di New York membawa rancangannya, aku selalu berpikir semuanya sudah sempurna dan siap ditampilkan. Tapi ternyata, selalu ada perubahan saat fitting. Sophia adalah sosok yang sangat kreatif. Detail terkecil pun tidak ia lewatkan,” ujar Serkan.

Sekedar informasi, Victoria’s Secret tahun lalu menghabiskan 40 kaleng tanner untuk mencoklatkan kulit para model, US$ 4 juta untuk membuat Fantasy Bra, menggunakan 39 pasang sayap dan 136 kilogram glitter.

(dng/dng)

Baca Artikel Tentang Fashion Disini