Home INDONESIA Mengenal Lebih Dekat Sosok Nur Fitriana ‘Astronaut’ dari Sleman

Mengenal Lebih Dekat Sosok Nur Fitriana ‘Astronaut’ dari Sleman

25
0
SHARE

SLEMAN – Seorang guru SD di Kabupaten Sleman, DIY, Nur Fitriana menjalani 5 hari pelatihan astronaut di Amerika Serikat. Di kalangan rekan kerja dan atasan, Fitriana dikenal sebagai sosok yang inovatif dan inspiratif.

Fitri mengajar kelas 5 di SD N Deresan sejak 3 tahun lalu. Mulai tahun ajaran baru mendatang, dia mengajar di kelas 2. Sebelum mengabdi di SD N Deresan, dia mengajar di SD Model Sleman.

Saat ditemui di sekolah tempatnya mengajar saat ini, Fitria menceritakan perjalanan hidup dan pendidikannya hingga pengalamannya sebagai peserta program Honeywell Educators at Space Academy untuk mengikuti pelatihan astronaut di US Space & Rocket Center (USSRC) di Huntsville, Alabama, Amerika Serikat.

Fitri lahir di Nganjuk, Jawa Timur pada 9 Juni 1986. Dia kini tinggal di Kotagede, Yogyakarta bersama suami dan tiga putranya. Perjalanan hidupnya hingga titik seperti saat ini ternyata tak datang begitu saja. Fitri sempat ditolak masuk sekolah SD.

Hingga akhirnya, Fitri melanjutkan, ada satu SD di kecamatan yang mau menerimanya. Dan selama sekolah SD hingga SMA, Fitri mampu menunjukkan prestasi dengan selalu meraih peringkat satu di kelas. Setelah lulus SMA, Fitri melanjutkan pendidikan D2 di Universitas Negeri Malang, S1 PGSD di UT Yogyakarta dan S2 Psikologi Pendidikan di UGM.

Fitri mengaku keluarga sangat berperan di balik prestasi yang dia raih. Orang tuanya selalu menekankan disiplin, belajar ilmu agama dan mengamalkannya, serta tidak egois dalam bersosialisasi dengan teman maupun lingkungan sekitar. Apalagi Fitri merupakan anak sulung dari 4 bersaudara yang dituntut menjadi teladan bagi adiknya.

Hal-hal tersebut membuatnya menjadi sosok Fitria seperti saat ini. Fitria yang dikenal inovatif saat mengajar ini kemudian mendaftar pelatihan astronaut di Amerika Serikat. Dia akhirnya lolos bersama 9 orang dari Indonesia dan 108 peserta mancanegara. Pelatihan itu berlangsung selama lima hari mulai 21-25 Juni 2018.

Dia bercerita awalnya mengetahui adanya program pelatihan yang dilaksanakan rutin tiap tahun ini dari temannya pada 2015. Saat itu, dia tertarik mencoba mendaftar tetapi sempat berpikir apakah pelatihan ini bisa menunjang kegiatan belajar terutama kaitannya dengan profesi seorang guru. Fitri kemudian mempelajari jurnal internasional soal astronaut yang ternyata erat dengan science, technology, engineering, mathematics (STEM).

Pada September 2017 dia akhirnya mendaftar melalui internet dengan mengirimkan persyaratan dan artikel berisi penelitiannya soal sumber daya listrik alternatif berupa baterai yang isi karbonnya diganti dengan kulit sayur dan buah, serta membuat jembatan dari koran bekas yang kuat menahan beban batu bata.

Hingga akhirnya dia dinyatakan lolos pada 28 Desember 2017.

“Setelah dinyatakan lolos seleksi, dari total 2.776 pendaftar dari seluruh dunia, saya bersama 9 peserta dari Indonesia senang tapi juga khawatir,” ujarnya di SDN Deresan, Sleman, Senin (2/7/2018).

Fitri mengaku tidak menyangka bakal lolos seleksi karena kuota pendaftar tidak dibatasi dan bisa diikuti oleh setiap orang dari seluruh negara.

“Selama lima hari kita dilatih menjadi seorang astronaut, simulasi naik pesawat ke luar angkasa, sistem mesin, juga pelatihan karakter, mental, disiplin, dan ada praktik memakai teknologi serta pemanfaatan barang bekas dalam STEM (science, technology, engineering, mathematics),” ujar guru kelas 5 ini.

“Jadi setelah pelatihan kita para guru diharapkan bisa paham betul STEM ini, dan bisa mengaplikasikan metode belajar kepada para siswa. Jika ada kendala kelengkapan fasilitas teknologi, guru bisa praktik dengan benda-benda di sekitar,” paparnya.