Home FASHION Desainer Hian Tjen Gelar Show Tunggal Perdana Terinspirasi Cerita Dongeng

Desainer Hian Tjen Gelar Show Tunggal Perdana Terinspirasi Cerita Dongeng

163
0
SHARE
Desainer Hian Tjen Gelar Show Tunggal Perdana Terinspirasi Cerita Dongeng

Jakarta – Merintis karier sebagai perancang busana pada 2008, nama Hian Tjen semakin dikenal di industri mode Indonesia. Setelah tujuh tahun berkarier, tahun ini Hian memberanikan diri menggelar show tunggal perdana.

“Aku belum begitu percaya diri karena karierku di dunia fashion masih tergolong singkat, belum sampai 10 tahun. Karena banyak dukungan dari teman dan keluarga akhirnya show ini dapat terlaksana,” ujar Hian sesaat sebelum fashion show di Hotel Raffles, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (19/8/2015).

Pagelaran busana tunggal yang bertajuk Chateau Fleur ini terinspirasi dari cerita dongeng asal Prancis. Dalam dongeng itu diceritakan dunia ini sudah lama ‘dicampakkan’ manusia sehingga tumbuhan liar bebas merajalela dan alam bebas menguasai manusia. Dari situlah muncul dua kepribadian baik dan jahat yang menjadi penyeimbang antara manusia dengan alam.

Koleksi haute couture kali ini masih tetap berpegang pada ciri khas rancangannya; feminin, seksi dan lembut. Sebanyak 59 busana dengan siluet sederhana mulai dari gaun pendek maupun panjang, ballgown, terusan bervolume dan cape menghiasi panggung peragaan yang ditata apik menyerupai kastil kuno yang ditumbuhi akar liar menjalar.

Baca Juga: 50 Inspirasi Gaya Hijab Selebgram

Balutan gaun panjang memeluk tubuh dengan nuansa merah dari material sutera kaya detail membuka pagelaran busana. Selanjutnya, gaun-gaun yang didominasi warna hitam memberikan kesan kuat, elegan, sekaligus misterius berkat aksentuasi payet, manik-manik, dan kristal di bagian bawah gaun. Kedua warna ini diibaratkan sebagai tokoh utama untuk menggambarkan sisi buruk sifat manusia.

Berlanjut ke sesi kedua, desainer lulusan ESMOD Jakarta itu menginterpretasikan rancangannya melalui palet warna pastel seperti krem, baby blue, hingga putih dan warna keemasan sebagai kepribadian yang baik dan menyenangkan. Di sini, Hian juga menuangkan kecintaannya pada materi bulu-bulu ke dalam busana bersiluet jubah, gaun-gaun panjang dengan detail rumit serta terusan pendek.

Hian menceritakan, tiap busana yang dirancanganya hampir 90 persen dikerjakan secara hand made. Dengan telaten, satu persatu manik-manik dan payet disusun membentuk garis-garis tegak di atas material berkualitas tinggi yang tidak mudah kusut seperti kain duchess, scuba, dan tulle berlipit yang didapatkannya langsung dari Italia dan Hongkong.

Dengan dibantu 50 orang timnya, proses pengerjaan mahakarya ini memakan waktu lebih dari tiga bulan. Sedangkan konsep busananya sendiri didapatkannya sejak dua tahun lalu. Tak heran, tiap potong koleksinya memacarkan kualitas tinggi dalam pengerjaan detail busana. Untuk foto Koleksi selengkapnya, klik disini

(itn/hst)

Baca Artikel Tentang Fashion Disini